Hutang Rasa

Lembaran terakhir pada sebuah kalender…
Angka pembuka di bulan desember…
Sore itu aku Kembali ke tanah rantau jakarta…
Ya, Kembali, karena Pulang hanya milik semarang tercinta…
Terkecuali Pulang yang sejati, Pulang kepada pemilik alam semesta…
Seperti biasa, aku kembali ke jakarta naik kereta…

Seperti biasa pula, suasana hati saat kembali, tentu tak sebahagia saat pulang…
Tapi Semesta selalu punya cara untuk menghibur hati yang kalang…
Ku duduk di pojok dekat pintu antar gerbong pada kereta…
Dihadapanku, Tuhan menyisipkan wanita yang sederhana penuh pesona…

Awalnya tak ada kata diantara kita…
Hingga ketika, ku ambil dari tas sebuah buku Lupus yang Tragedi Sinemata…
Intuisiku berkata dia juga suka, kudapati dari ekspresi wajahnya…
Dan benar, tak lama kemudian dia ucap kata untuk mengisi ruang hampa diantara kita…

Ya, buatku Tuhan juga Maha Asyik, dengan mengasyiki segala skenarioNya untuk indahnya hidup kita…
Seperti ini, belum lama dan belum banyak kata diantara kita, dia sudah berpamitan hendak turun di stasiun tegal…
Dhuh sesal…
Dalam hati bicara, kenapa tidak sedari awal buku Lupus kubaca…

Dari jendela kulihatnya dia turun dari kereta…
Sungguh tak kusangka…
Dia melihat kearahku lalu tersenyum dan melabai tangan…
Kereta pun kembali melaju melanjutkan perjalanan…

Tetiba hadir dalam pikiran, mengapa aku tak menanyakan namanya…
Mengapa pula tadi tak kepikiran untuk berkenalan…
Yah, meski tak ada perkenalan, namun terdapat senyum dan lambaian tangan yang hadir dalam kenangan…
Memang benar, naik kereta selalu banyak cerita…
Namun, kali ini benar-benar buatku hutang rasa…
Terimakasih Semesta…

/acsr/

Leave a Reply